Posts

THINGS TO DO IN TSURUOKA: Join Cooking Class in Kokusaimura

Image
Tsuruoka sebenarnya ga jelek-jelek amat jika dibandingkan dengan desa sekelas Jepang. Se desa-desanya sebuah desa pasti tetap maju juga. Contohnya, di Tsuruoka ini, ada sebuah forum internasional yang berfungsi untuk mewadahi kreativitas dan hobi para warga asing yang tinggal di Tsuruoka untuk diexplore dan diberdayakan. Tidak hanya itu, forum ini juga mewadahi bagi mereka yang ingin belajar bahasa jepang secara intensive dan mereka yang ingin unjuk kebolehan. Seperti yang baru saja dilakukan oleh suami saya. Agenda rutin bulanan forum ini atau akrabnya dinamai kokusaimura, adalah adanya kegiatan cooking class dengan menu dan chef langsung dari warga negara yang bersangkutan. Kali ini nampaknya staff kokusaimura ingin menantang suami saya untuk unjuk kebolehannya dalam memasak. Suami saya memang jago masak. Bukan jago makan saja. Dia bisa masak apa saja tanpa resep dan hasilnya enak. Mungkin sudah gift ya :D Cooking class ini berlangsung sukses dengan dihadiri peserta sebanyak 19 or...

TRAVELLING: Pas Hamil

Oktober 2015 Bukan keinginan saya tentunya untuk hamil jauh dari suami dan orang tua. Alhamdulillah rejeki memang sudah diatur Allah. Ketika hamil 4 bulan, saya sudah harus melakukan perjalanan jauh sendirian tanpa suami dan orang tua, dengan membawa koper bermuatan cukup berat dan dituntut untuk tetap sehat dan bugar selama perjalanan. Perut harus tetap kenyang, fisik tidak boleh lelah, dan mental harus sekuat baja, tidak boleh cengeng apalagi stres. Suami saya tidak bisa langsung ikut mendampingi menggunakan  dependent visa  karena status saya belum resmi sebagai  student.  Sesampainya di kampus nanti, saya masih harus menjalani status sebagai  research student  selama 6 bulan, lalu mengikuti ujian masuk universitas program master dan baru bisa ditetapkan sebagai  official student  setelah lulus ujian, barulah saya bisa mengundang suami dengan  dependent visa . Jadi, suami saya tetap bisa datang berkunjung, namun dengan tipe visa...

TRAVELLING: Bawa Bayi

Image
Masih hangat terasa suasana Kabul, Afghanistan, tanah kelahiran suami saya. Baru saja saya dan keluarga melakukan perjalanan kesana untuk bersilaturahmi dengan keluarga setelah kelahiran Zahra di Jepang. Kami sudah kembali lagi ke Jepang. Hanya satu bulan disana dan terlalu singkat untuk berkumpul bersama keluarga. Apa boleh buat. Kini rutinitas normal kembali harus dijalani. Di Jepang lagi, kuliah lagi, asuh anak sendiri lagi, masak sendiri lagi dan suami kerja lagi. Libur telah usai. Penerbangan kali ini sangat spesial, karena merupakan perjalanan udara pertama bagi saya dan suami sejak kami menikah, dan plus, terbang bersama anak kami yang cantik dan soleha, Zahra. Usianya baru 9 bulan tapi saya nekat berangkat karena mertua sering menanyakan kapan kami akan pulang. Mertua saya sudah sangat sepuh dan belum pernah bertemu anak menantu dan cucunya sejak dipinang oleh suami. Saya pun sangat ingin berjumpa dengan keluarga besar suami dan belajar banyak tentang berumah tangga dari mer...

MARRIAGE: Perjuangan menuju Tsuruoka

Bagi orang yang pertama kali datang ke Jepang atau datang ke negara manapun wajar jika merasa kebingungan dengan sistem yang berlaku di negara tersebut, ditambah lagi jika yang bersangkutan tidak memahami bahasa dan budaya masyarakat sekitar. Jepang merupakan salah satu negara termaju di Asia yang sebagian besar mengedepankan tenaga mesin otomotis dibanding tenaga/jasa manusia. Hampir di semua tempat umum fasilitas yang disediakan dilakukan dengan mesin dan manusia hanya sebatas berperan sebagai pengontrol/pengawas. Jepang juga merupakan negara yang tak pernah melupakan atau meninggalkan budayanya. Hampir sebagian besar orang Jepang menghindari penggunaan bahasa Inggris dalam bercakap-cakap, kecuali dalam kondisi tertentu, sehingga hal ini lebih menyulitkan para pelancong jika mereka sedang tersesat. Suami saya akan datang tanggal 13 Februari 2016 ke Tsuruoka dari Indonesia. Beliau adalah WNA yang sudah beberapa kali merasakan pahit getirnya perjalanan lintas negara. Seperti 4 tahun ...

HIDUP DI JEPANG: Hamil

Image
Tahun lalu, Oktober 2015. Pertama kali datang ke Jepang, saya sedang hamil 4 bulan. Saya datang karena mendapat beasiswa Monbukagakusho untuk menempuh program master di Yamagata University dan akan tinggal selama 2,5 tahun di Tsuruoka. Saya harus melakukan perjalanan seorang diri karena suami tidak bisa mendampingi dengan alasan belum bisa apply untuk dependent visa karena status saya belum resmi sebagai official student. Di Jepang, setiap mahasiswa asing diwajibkan mengikuti pra kuliah selama 6 bulan (di luar masa studi) dengan agenda penelitian (atau tergantung supervisor) dan berstatus sebagai research student.  Teknisnya, setengah tahun pertama saya lalui seorang diri dengan kondisi hamil karena sistem pendidikan di Jepang mengharuskan setiap foreigner  penerima beasiswa degree harus menjadi research student  dengan tujuan orientasi kampus dan lab, dan bahkan melakukan penelitian kecil. Bismillah saya pun berangkat... Oh ya, tips perjalanan udara bagi ibu hamil s...

TSURUOKA: Winter

Image
Alhamdulillah terhitung April 2016, saya resmi terdaftar sebagai mahasiswa program master di kampus Yamagata University, Fakultas Pertanian, Jurusan Forest Ecology. 6 bulan sebelumnya kami penerima beasiswa Monbusho diwajibkan datang ke Jepang untuk tujuan orientasi kampus dan berstatus kenkyusei (research student) untuk berinteraksi dengan lab member dan sensei terkait. Selebihnya, program sebagai kenkyusei ini akan dibebankan pada sensei masing-masing. Biasanya kami diminta datang ke Jepang pada bulan Oktober untuk mempersiapkan ujian masuk pada bulan Desember/Januari (tergantung universitas). Satu bulan kemudian pengumuman dan bulan April lah ajaran baru dimulai.  2 tahun lalu, alhamdulillah saya sudah pernah singgah di Tsuruoka selama satu tahun untuk menjalani program pertukaran pelajar yang diadakan melalui sistem MoU kampus Yamagata dengan UGM. Saya sempat mengalami culture shock karena pertama kali ke Jepang harus dikenalkan dengan lokasi yang cukup ekstrim, Tsuruoka....

PASPOR DAN VISA: Spouse Visa ke Jepang (Case: WNA yang berdomisili di Indonesia)

Kali ini saya ingin berbagi pengalaman mengurus visa Spouse atau Family Visit Visa untuk masuk ke negara Jepang. Ada beberapa tipe visa yang bisa diperoleh WNI untuk masuk ke Jepang tergantung pada tujuan dan kepentingan masing-masing. Spouse visa ini diperuntukkan untuk mereka yang ingin berkunjung ke Jepang dengan sanak saudara sudah berada/domisili di Jepang (WNI). Saya sedang berdomisili di Jepang  sekitar 4 bulan dengan status kenkyusei (research student) program master di salah satu universitas di Jepang. Saya hendak mengundang suami (WNA) dan orang tua (WNI) dalam rangka mendampingi saya dalam proses melahirkan anak pertama kami. Berhubung domisili keluarga kami di Jawa Timur (Lumajang), maka pengurusan visa bisa dilakukan di Konjen Jepang Surabaya (Jl. Sumatera  No. 93, Surabaya). Beberapa syarat yang harus dipenuhi jika Anda berlaku sebagai pengundang (domisili di Jepang) adalah: 1. Surat Undangan (http://www.id.emb-japan.go.jp/visa_1.html.) 2. Surat Jaminan (ht...